Aku dan Duniaku
Aku yang terlalu jauh memandang, dan
lama hatiku tak menemukan jati diriku. Hidup bagaikan kertas putih tak bergaris
biru, hampa_menyenangkan namun tak bermakna. Kembali diriku kejalan sunyi yang
basah. Merangkai kisah dengan sejuta warna bintang. Menyisahkan masalalu yang
menyeringai diantara kabut kelam. Hadirlah aku saat ini yang masih kosong yang
juga indah. Aku ingin melukis diriku yang terpejam. Aku ingin menerka satu cat
yang mewakili kebahagian abadi. Hilangkah aku diantara kegelapan dan kabut
malam, meski tangisan selalu ada_kebahagiaan juga ada.
Sejauh mana diriku memandang dunia
dengan penuh keberkahan, hidup dalam badan yang seharusnya tak sia-sia,
kalaulah aku kembali datang dan menyapa masa lalu merangkai ulang ceritaku.
Seperti inikah jadinya aku?. Aku takkan menganggap semua manusia dalam masa
lalu yang mengejek itu iblis, karena akulah iblis itu dan menjadikan mereka
iblis-iblis kecil bawahanku. Lalu ketika hari ini aku dikenal sebagai apapun
yang dianggap orang aku juga akan percaya, bahwa gambaran diriku di mata
orang-orang yang mengenaliku adalah aku yang masih aku. Hingga aku yang akan
berusaha untuk merubah itu. Meski dalam hati aku tak begitu peduli dengan suara
dan pandangan subjektifitas. Tapi hanya dengan gambaran itu aku berkaca dan
menyimpulkan inilah aku.
Sajak gembala yang membuatku luluh,
ataupun jeritan kelaparan yang membuatku jatuh berlutut dalam tangis adalah aku
yang lemah dan tak punya daya untuk menggemgam tangan mereka yang kurus dan
dingin, lalu apa artinya aku?. Jikalau pagi yang cerah ini aku masih melihat
wajah mendung dan tak mampu untuk menyinari. Aku bukanlah matahari pertanda
pagi, ataupun bulan pertanda malam. Tapi aku yang selalu ingin untuk menjadi
kedua hal itu. Jika aku menemukan diriku yang yang masih diam maka aku sendiri
yang melukis diriku dengan mata terpejam, bahwa aku masih aku.
Nafas yang masih berhembus ini
seakan hanya angin sederhana, namun melalui kesederhanaanya, mampukah aku
hidup? Menempatkan nyawa dalam tubuh yang biru? Jikalau sampai nanti waktunya
aku menyadari bahwa aku tak pernah sendiri. Jatuh dalam masa lalu dan
membayangkan yang tak pernah ada disampingku sedang memelukku rindu dan
menggandeng tanganku aku kan tertawa bahwa hanya kepada-Nya lah aku berada dan
sekarang kurasa aku selalu diawasi, dijaga, dilindungi oleh-Nya. Hal itu yang
membuatku sadar bahwa masa lalu dan orang masa lalu hanyalah padang pasir
diatas salju. Aku yang bertingkah ini kalaupun melampaui batas akan sadar,
siapa yang disampingku selalu. Maka hanya kepada-Nya lah aku berjalan untuk
menemukan aku.
Sebuah syair mengingatkanku akan
betapa luas makna hidup ini yang terkadang bermula dari kesederhanaan dan
kesyukuran. Suatu berita yang membawaku kembali dalam mimpi dan cita-cita
adalah diriku yang mulai bisa berdansa dengan mimpi yang kurangkai. Hingga
akhirnya aku sendiri yang tahu. Tiada satu orang pun yang mampu merubahku
menjadi aku yang seperti aku saat ini. Hanya aku yang memilih dan menjalaninya,
dengan sejuta orang disekitarku yang kusayangi. Jika aku lebih mampu lagi
menggandeng tangan mereka dan mengajak mereka kedalam kebaikan, mampukah aku?.
Kalaupun tanpa ayah dan menangis
dalam pesta malam, kemudian bintang berkedip kasihan. Menganggap semua orang
yang baik itu ayahku dan membuatku bercerita tentang aku dan duniaku, menangis
rindu dan marah aku akan kembali mengangkat wajah yang berat dan melihat
duniaku kembali dengan ribuan ayah yang saat ini, realita ini hadir dan
memudahkan semua kesulitanku. Maka aku lebih bahagia. Tak begitu peduli atas
kesadaran mereka akan ini. Malam kembali merenggut cahaya membuatku ingin
mengatakan pada mereka bahwa karena mereka pula lah aku bangkit, karena itu aku
menganggapmu ayah. Marahkah mereka?. Aku tak perlu dikasihani aku bukan peri
kecil bersayap hitam yang menrengek meminta barang elektronik atau uang kertas
yang disobekpun bisa. Tetapi aku yang tak berwarna ini ingin warna yang mampu
mewarnai aku.
Suatu saat nanti bila aku mampu
mengatakan ( atau tidak sama sekali ). Tidak akan ada efek. Sekalipun itu dan
maka dari itu, biarlah setelah memandang wajah ayah-ayahku aku pulang dan
menangis hingga kelopak mataku jera dengan hati yang tak terkendali, aku kan
diam kembali. Bahwa sudah cukup dengan mereka, dan mereka tak perlu tahu.
Terima kasih ayah-ayahku di seluruh penjuru dunia ini yang membuatku kembali
bangkit di atas roda dan goncangan angin di tiang kapal. Membuatku ingat akan
semua hal baik dan membuatku mengerti kebaikan ini. Menuntunku menjadi orang
yang lebih baik. Adalah aku saat ini yang juga bersyukur atas semua kejadian
masa lalu itu. Kemudian dalam heningnya malam akukan berdoa untuk kemakmura
ayah-ayahku dan semua orang yang memudahkanku.
Aku dan Duniaku, aku dan
ayah-ayahku, aku dan mimpiku, aku dan cita-citaku, aku dan hari ini, aku dan
teman-temanku, aku dan sahabatku, aku dan jalan yang sering kulewati, aku dan
air mata, aku dan tawa, aku dan percaya, aku dan aku, aku dan Tuhanku. Adalah
satu membentuk diriku membuatku melangkah kembali bahwa dalam paduan ini, aku
yang menghadapi dunia dengan mereka, susah maupun mudah adalah aku.
Ayah-ayahku
yang belum sadar akan itu...
Dan
doa yang menyertai mereka akan membuat mereka dengan sendirinya sadar...
Yang
terpenting hari ini aku harus lebih baik.
Terima
kasih atas keterpaduan yang satu itu.
Aku
menemukan aku.
Putriyana Asmarani
Nama pemberian ayahku yang bermakna cinta